#Dunia Terbalik# dan Pelanggengan Budaya Patriarki

By September 13th, 2017

Dunia terbalik dalam  judul sebuah sinetron di salah satu stasiun tv swasta yang cukup menarik untuk menggambarkan realita tentang relasi antara suami dan istri, cerita yang mengalir dan menggambarkan kehidupan yang berbeda dengan kenyataan yang terjadi di mana suami yang seharusnya berperan sebagai seorang pencari nafkah, berganti peran menjadi seorang yang menggantikan istrinya untuk mengurus segala keperluan rumah tangga,  dari mengurus anak, mencuci, memasak dan segala kepentingan dapur menjadi tontonan yang lucu dan seolah menjadi simbol dalam mentertawakan nasib karena di tinggal istri untuk bekerja menjadi seorang TKW.

Kelucuan-kelucuan terjadi dengan cerita dan adegan tentang peran suami ketika tidak berperan sebagaimana mestinya, alur cerita ini berbeda dengan simbolisasi peran suami   saat ini, dimana masih di gambarkan sebagai seorang yang profesional, bekerja, menjanlin relasi dengan dunia luar dan simbol status sosial yang langgeng sebagai pemimpin keluarga. Kenyataan inilah yang coba diangkat menjadi cerita yang menarik ketika seorang suami tampil berbeda dengan peran yang seharusnya dilakukan. Dunia seakan dipertontonkan dengan adegan seorang suami yang  trampil memasak, merawat anak bahkan “ngrumpi” sesama suami yang di tinggal para istrinya bekerja menjadi TKW. Cerita ini dibungkus dengan menarik di tambah dengan peran apik yang dijalani oleh para pesinetron yang piawai memerankan para tokohnya.

Cerita yang berbeda dengan kontruk sosial yang selama ini langgeng dengan gambaran relasi suami istri, dimana hubungan yang terjadi adalah bukan kemitraan melainkan ketidakseimbangan dalam menjalin relasi antara keduanya. Suami adalah sosok kekuasaan yang selalu mendominasi dan berperan sentral dalam alam nyata. Inilah budaya patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai tempat utama dan perempuan sebagai second class yang mendukung dan berperan penting dalam keberhasilan sosok suami. Kenyataan adalah kontruk yang terbangun dan terus dilestarikan melalui media, diskursus dan kekuasaan.

Salah satunya adalah media televisi yang secara massif masih menggambarkan ketidakberdayaan perempuan karena digambarkan dengan sosok yang anggun, cantik, dan berperan lemah lembut dan seharusnya menjadi peran keibuan dengan hadir di dalam keluarga. Sosok perempuan yang cerdas, inovatif dan tampil beda jarang diperankan dalam kisah-kisah kehidupan di alam pertelevisian maupun perfiliman. Cerita dunia terbalik menjadi sintesa yang berbeda tetapi sebenarnya muatan yang sama untuk mentertawakan peran laki-laki yang berbeda tetapi sejatinya adalah ingin menegaskan bahwa laki-laki tidak layak untuk berperan sebagai peran reproduktif.

Akhirnya budaya patriarki menjadi langgeng dan terus dipertahankan, bukan mengambil sisi yang berbeda bahwa dunia peran gender sudah berubah. Dunia yang lebih adil tanpa mendikotomian adalah menjadi jawaban gender yang berubah untuk dunia yang lebih adil

 

This entry was posted on Wednesday, September 13th, 2017 at 7:33 pm and is filed under Pengumuman. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.