Kebijakan Tata Kota “Ala Tukang Kayu”

By October 3rd, 2013

Apa  hubunganya tukang kayu dengan tata kota, tidak ada relevansinya, iya hanya kegelisahan saja memaknai proses pencapaian penghagaan lingkungan “adipura ” dengan mengorbankan lingkungan yang cukup asri, infrastruktur penting untuk memperindah kota tapi kenapa yang harus dikorbankan adalah pepohonan yang rindang yang menghiasi kota. Misal saja kota kecil yang sedang heboh jadi calon alternatif Ibu Kota ini “Purwokerto” kota mendoan, akhir-akhir ini demi sebuah prestasi Adipura yang selama ini hilang rela membabat pepehonan yang tumbuh bertahun-tahun, mengapa a tidak memadukan kekayaan alam yang sudah terbangun untuk memolesnya menjadi tata ruang yang nyaman dan teduh. Jalan Dr. Angka atas nama pembangunan tumbuh menjadi jalan yang hilang akan ke khasanya, walaupun pohon baru mulai menghiasi, demikian jalan Hr Boenyamin, Jalan Kombas, Soedirman, dll telah hilang nuansa kebatinanya, hah meminjam istilah Sudjewo Tedjo.

Kota merupakan cerminan kehidupan masyrakatnya yang tertanam kuat dalam gambaran jejak kehidupan, lingkungan, pepohohan yang menyangga sebagian besar kebutuhan hidup bersih. Lagi-lagi Purwokerto melupakan makna penyatuan alam sebagai bagian dari tatanan kehidupan dan cara pandang masyarakatnya. Kenapa tukang kayu, sederhana saja melihat pohon besar, berapa meterkah yang dapat digunakan untuk kepenganya sehingga dapat untung. Walaupun logikanya tidak demikian, memaknai penataan kota purwokerto dengan mengorbankan banyak pepohonan. Tapi satu kata adalah demi Adipura.

Kenapa tidak dengan cara lain, memadukan masyarakat sipil Banyumas yang sebenarnya dapat di gerakan. Masih ingat betul ketikan pertamakali mengijakan kaki ke Kota mendoan ini betapa masyarakatnya sangat guyub dan ada agenda unik adalah minggu bersih yang menjadi trending topik.  mengapa itu tidak digalakan kembali.

Catatan Adipura untuk tahun ini kemungkinan besar Banyumas tidak akan memperolehnya kembali. Selain masih ada masalah yang belum terselesaikan, betapa kumuhnya Jalan Soedirman Timur, Pembangunan fisik yang belum selesai, budaya bersih masyarakat yang hilang, dan tatakota yang masih kacau.

Masalah yang harus diselesaikan adalah menempatkan para PKL pada tempatnya, menata ulang kota Purwokerto dengan kebijakan pro lingkungan, melibatkan kembali komunitas masyarakat cinta bersih. Masalah  Adipura bukan tanggungjawab Pemkab tapi masalah bersama yang harus di tanggung bersama.

Bersiap kota Purwokerto sebelum menjadi Ibu Kota………….

This entry was posted on Thursday, October 3rd, 2013 at 11:08 am and is filed under Pengumuman. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.