“Bawang dan Lombok Tak Menarik Lagi buat Petani”

By March 27th, 2013

Setiap ada tukang belanjaan yang lewat di depan rumah, sepintas mendengar pembicaraan ibu-ibu yang berbelanja, bukannya ngrumpi, sekedar ingin tahu  isu “hot” apa yang sedang mereka bicarakan. Maklum isu akhir-akhir ini tidak lepas dari pembicaraan orang-orang pinggiran yang notabene adalah rakyat kecil yang paling merasakan. Wah kemarin bawang, sekarang lombok, tomat dan apa lagi, apa negara sudah tidak bisa ngatur kebutuhan kita. Aduh bawa-bawa negara pikir saya,  semua kebutuhan yang berkaitan dengan ibu-ibu semuanya sedang mahal, pantas saja ibu-ibu itu berteriak bagaimana dengan  negara yang tidak bisa lagi mengelola dan mengatur kebutuhan sekecil apapun. Ini ibu-ibu bisa saja menyalahkan negara.

Sekejap saya berpikir, ada hal yang menarik kenapa kebutuhan ibu-ibu yang sebenarnya bisa dihasilkan dari kita sendiri sekarang menjadi barang langka dan harganya di luar kemampuan kita sebagai rakyat kecil. Apa wajar harga bawang sampai 70 ribu belum lagi lombok, tomat, dan semua bumbu dapur merangkak naik. Seolah tidak percaya kejadian ini terus berulang, negeri ini yah yang katanya negeri yang subur makmur gemahripah loh Jinawi, harus tergantung  pada negara lain yang namanya bawang putih, bawang merah dan bumbu dapur lainnya, termasuk beras, tomat.

Lalu dimana negeri kita yang katanya hidup dari desa, sawahnya luas, perairannya bagus dan cap pengakuan yang lainnya. Wah, kalau demikian tidak harus kekurangan bawang, lombok, beras, dan yang lainya. Sepintas saya bertanya, benarkah negara kita sedikit-sedikit sudah main impor, para pak Kartel yang menguasai negara ini. Sehingga pelabuhan-pelabuhan berisi barang impor,,,semuanya produk cina, filipina, Thailand dll.bAh tidak….., ada yang salah, ah jangan main menuduh, menyalahkan…ini  dan itu,

Selayang pandang saya menerawang ke desa saya, melihat pak tani bawang yang sedang asyik menanam bawang dengan harapan harga yang tinggi, lihat mereka baru merasakan betapa harga itu sangat dirasakan mereka, sebelumnya dimana, semua obat pertanian semuanya mahal, pupuk yang katanya subsidi tapi hilang di pasaran. Pas giliran harga tinggi, kami tidak menanamnya mas, ah alasan klise…apa benar yah, petani sahabatku seringkali jadi korban, mereka kalah dengan kebijakan negara yang hanya mengutamakan kaum-kaum “pak Kartel” sehingga begitu mudahnya nasib sahabatku di ombang-ambingkan. Sehingga pada satu kata” nak kamu jangan jadi petani. petani iki susah, sengsara,,,,,negara tidak pernah membantu kita, wis nak kamu sekolah di pertanian boleh tapi sekali lagi jangan jadi petani yah nak.

Wah apa hubungannya dengan sekolah, saya bangun dari lamunanku sepintas saya lihat kampus pertanian, wah megahnya luar biasa, berderet bangunan yang mengilhamkan dan memproduksi tukang-tukang petani yang unggul, tetapi apakah mereka kelak akan jadi petani. Tidak saya tidak akan pernah jadi petani di Indonesia.   Hanya jadi korban……wah korban apa ?

 

petani selalu teraniaya, padahal desaku adalah tanah yang subur, penghasil bawang merah terbesar di Indonesia. Hampir 23 persen pemasok kebutuhan bawang merah, tapi saya melihat sahabatku, mereka tidak mau lagi jadi petani. Saya ingin jadi yang lain asal  jangan jadi petani. karena selama ini petani tidak pernah sejahtera

Lalu apa yang dilakukan, bukankan kita punya berderet profesor, berderet ahli dan praktisi bidang pertanian, kenapa kita selalu kekurangang hasil-hasil pertanian. Satu lagi kita tidak pernah percaya bahwa dari bertanilah kita akan menjadi bangsa yang maju dan unggul. Sederhana saja kalau tanah ini masih bisa ditanami kita tidak akan pernah kelaparan akan bawang, lombok, apalagi beras dan lainnya. Sejahteraakan petani, kasih harapan pada mahasiswa pertanian apabila akan terjun kepertanian akan menadi milyader….bukannya jadi pegawai-pegawai yang hanya makan dari bulanan. Petaniku bersabarlah…kelak semua akan sadar bahwa bangsa ini akan kokoh dengan berbasis pada pertanian.

 

This entry was posted on Wednesday, March 27th, 2013 at 11:06 am and is filed under Pengumuman. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.