Pendidikan Karakter Ala OVJ dan Fesbukers

By December 22nd, 2011

Pendidikan menjadi kata kunci menuju proses perubahan yang dinamis dan berkesinambungan. Keberlanjutan sebuah bangsa juga diukur dari seberapa besar komitmen dan perhatian bangsa tersebut terhadap pendidikan. Melalui proses yang terencana di harapkan pendidikan akan menghasilkan pola perubahan yang diinginkan menjadi bangsa yang bermartabat dan memiliki karakter sebagai bangsa yang terhormat. Kata ini diperoleh dari gambaran kehidupan masyarakat yang ada di dalamnya sebagai suatu bangsa yang memiliki jiwa dan semangat terhormat, saling menghargai, tidak merendahkan, memiliki empati dan rasa sebagai suatu bangsa yang senasib sepenanggungan.

Rupanya kata saling empati, menghargai dan jujur terhadap semuanya, kini sebagai slogan yang sulit untuk dijumpai di masyarakat kita. Masyarakat bangsa ini sudah terasing dengan karakter yang terbangun sebagai bangsa yang bermartabat. Mentertawakan orang yang menderita, bahkan menyalahkan antar sesama tanpa mengerti duduk permasalahannya menjadi kebiasaan yang terus terjadi. Lempar tanggungjawab dan tidak berani bertanggungjawab seolah menjadi hiasan kehidupan yang melingkupi elemen bangsa ini. Betapa tidak kerusakan terparah bangsa ini adalah ketika warganya “mengerogoti” kehormatan bangsa ini dengan korupsi massal yang luar biasa dampaknya bagi kehidupan kita.

Kekerasan sudah menjadi trensenter  dalam penyelesaian permasalahan, tidak ada penghargaan sedikitpun terhadap  jiwa kemanusiaan, kasus Mesuji sebagai bukti kebiadaban bangsa kita sendiri terhadap bangsanya. Tanpa harus menuding siapa yang bersalah, itu bukan suatu peneyelesaian.

Untaian kata ini sekedar kegelisahan seorang pendidik, yang setiap saat melihat kenyataan yang tidak lagi pada batas kewajarannya. Seorang anak didik yang begitu mudah untuk tidak lagi jujur kepada diri sendiri, memiliki rasa hormat kepada yang tua, bahkan pendidikan sekarang dianggap sebagai formalitas yang hanya menghasilkan rangking dan IPK. Apakah itu yang diharapkan, bukan lagi ketauladanan, nilai dan moralitas, tidaklah heran apabila sekarang ini kita hanya menyaksikan bias dari pendidikan ini, yang muda yang korupsi, yang muda yang selingkuh, yang muda yang tidak lagi memiliki idelisme. Baru kali ini pendidikan hanya menghasilkan kekerasan dalam kelas, dalam kampus. Ketika setiap saat menyaksikan perkelahian masssal kaum intelktual kita yang notabene ada pewaris tahta perubahan bangsa ini.

Sekali pendidikan haruslah berintropeksi, bukankah kita sudah tersertifikasi, kesejahteraan kita sudah meningkat, anggaran pendidikan yang sudah luar biasa tingginya. Pendidikan setidaknya harus berubah menuju pada treknya membangun peradaban bangsa ini sebagai bangsa yang bermartabat. Buang jauh pendidikan ala OVJ dan Fesbuker yang hanya menjadikan obyek kesengsaraan menjadi ketertawaan. Sadarkan kita telah dididik menjadi manusia yang mentertawakan obyek penderitaan orang lain. Yah walaupun itu sekedar hiburan. Namun itu akan mengekploitasi nilai kemanusiaan kita dengan mengekploitasi kelemahan orang lain. Apalagi kita lihat tontonan Fesbuker……tentunya kaum remaja kita menonton para Artis di salah satu stasiun TV, yah menjadikan obyek manusia untuk “kebanyolan radikal” dengan menjadikan obyek penderitaan untuk ketertawaan kita.

Apakah kita manusia yang sakit sehingga harus dihibur dengan tontonan televisi yang jelas melahirkan semangat ketidakberdayaan dan ketidakhormatan moralitas sebagai suatu bangsa.

Pendidikan sudah saatnya mengembalikan semuanya kepada jalan kebaikan menuju bangsa yang terhormat, saling menghargai, empati bukan lagi diukur dari prestasi semu dengan rangking dan IPK, namun semuanya akan menghasilakn mesin penghancur bangsa kita sendiri. Anak Indonesia harus terlahir sebagai anak yang menikmati dan merasakan perjuangan sebagai bangsa yang terhormat.

 

Sebagai pendidik kita harus bertanggungjawab terhadap semua ini, dimulai dari keluarga kita untuk menciptakan sistem sosial yang terarah menuju pada perubahan yang syarakat akan karakter sebagai bangsa yang terhormat.

This entry was posted on Thursday, December 22nd, 2011 at 10:09 am and is filed under Pengumuman. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.