“Tidak ada jalan yang Tidak Berlubang”

By February 27th, 2011

Rasanya tepat menggambarkan kondisi jalan raya yang ada di sekitar kita, hampir sepanjang jalan tidak ada yang tidak berlubang. Berbagai kecaman dan kritikan melalui media massa, kumpulan RT/RW, sampai rumpian ibu-ibu PKK yang semakin meyakinkan bahwa jalan raya kondisinya sudah memprihatinkan. Masyarakat seolah kembali dihadapkan pada pilihan, pada siapa harus menumpahkan segala keluh kesahnya ataukah selalu menikmati sajian jalan raya yang selalu berlubang. Betapa jalan rusak telah banyak mengakibatkan kecelakaan, korban harta, ketidaknyamanan, pendek kata secara lahir batin masyarakat di rugikan. Jalan tempat keseharian dinamisasi kehidupan seoalah menjadi penghambat yang terus menghantui secara fisik dan psikologis. Pengguna jalan tidak lagi enjoy it menikmati situasi sekitar, namun kembali dihadapkan pada kenyaataan bahaya yang siap mengancam. Boleh jadi jalan raya sekarang ini sebagai mesin yang efektif untuk menghilangkan kesenangan manusia, tidak hanya harta bahkan nyawa.

Kalau permasalahannya demkian, jalan raya tidak lagi berhubungan dengan sarana prasarana melainkan kebutuhan komunitas akan makna dinamisasi kehidupan. Seolah masyarakat atau pengguna jalan sudah teramputasi harapanya melihat sarana prasana umumnya seperti apa yang diharapkan. Bukankah kita sudah membayar pajak…, dimanakah uang itu…peran negara seakarang apa, akuntabilitas pemerintah dipertanyakan. Itu catatatan keluh kesah dan resahnya masyarakat di berbagai media.

Semua permasalahan, menjadi tanggungjawab negara atau pemerintah, seharusnya demikian sebagai warga negara meminta pertanggungjawaban kepada  pemerintah, apakah kemudian negara sudah tidak dapat lagi mengelola permasalahan yang sebenarnya tidak terlampua sulit.  Yah kalau semuanya berpikir demikian maka tidak akan pernah ada solusinya. Faktanya sekarang semua infrastruktur hancur……pemerintah tidak berdaya dalam pengelolaan infrastuktur. Harus ada solusi yang cepat dalam penanganan masalah ini. Sudah sedemikianbanyak yang terganggu dan dikorbankan. Sekiranya ada pemikiran bersama melalui kepedulian untuk membangun infrastukturnya di wilayah sendiri melalui kemandirian masyarakat ataupun kependulian tanggungjawab sosial perusahaan, BUMN, pihak swasta melalui CSRnya menjadi suatu yang mungkin.

This entry was posted on Sunday, February 27th, 2011 at 8:20 pm and is filed under Pengumuman. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.