“Bencana Mengintai Negeri”

By November 6th, 2010

Entah apa yang bisa digambarkan pada negeri ini, rentetan bencana yang terus terjadi telah menyesakan dada kita. Bencana dari tanah longsor, banjir, tsunami, gempa kebakaran,   sampai letusan gunung berapi telah menghiasi kehidupan penduduk negeri ini. Ribuan orang telah menjadi korban, rasa empati telah tersebar dari sabang sampai merauke. Namun bencana terus mengintai negeri ini, isyarat apa yang akan disampaikan oleh bencana ini, rasionalisasi negeri kita merupakan negeri yang rawan bencana oleh karena itu wajar apabila bencana itu silih berganti. Namun haruskah bencana menghancurkan sendi kehidupan penduduk negeri ini. Ribuan orang kehilangan nyawa,  dan entah apalagi lagi yang telah di telan oleh bencana. Keluarga terpisah dari keluarga lainnya, historis dan kenangan akan suatu kota hilang di telan bencana. Bencana menjadi destrroyer di negeri ini, puluhan tahun membangun tak ada gunanya. Dalam waktu sekejap semua hilang karena bencana. Benarkah bencana membawa malapetaka ataukah negeri ini yang belum dapat mengelola bencana.

Sayang bencana terus dimanfaatkan kampanye politik untuk mempertahankan kekuasaan, pencitraan politik di atas penderitaan. Bencana dijadikan sarana kampanye murah yang tidak diciptakan. Sudah sedemikiankah sistem politik ini. Beribu orang memanfaatkan bencana ini untuk kepntingan pribadi. Rasa empati bukan lagi di dorong rasa kemanusiaan namun hanya sekedar popularitas.  Inilah realita setiap penanganan bencana, sudah seharusnya bencana ditangani dengan profesional, tidak mengorbankan korban bencana itu sendiri atau bahkan memanfaatkan para korban bencana.

Kini bencana kembali mengintai negeri ini, Wasior, Mentawai dan ganasnya Merapi telah “meneror” rasa kemanusiaan. Alam sedang tidak bersahabat, ataukah kita yang merusak persahabatan dengan alam sehingga wajar alam ini berulah. Ribuan orang kembali terhentak oleh Bencana, kini Merapi yang terus menyemburkan awan panas, bahkan telah menjemput sang penjaganya Mbah Maridjan, kini..terus berulah menebarkan awan panas dan debu vulkaniknya.

Haruskah kita kembali memanfaatkan bencana ini hanya untuk politik pencitraan, korban bencana tidak membutuhkan itu, yang dibutuhkan adalah keiklasan. Bencana ini seharusnya kembali mengobarkan rasa empati kita bahwa kita adalah satu negeri yang saling menyayangi antar sesama.

Korban Merapi, bersabarlah ini adalah isyarat bagi kita, pemimpin tidak lagi memimpin dengan kerakusan, rakyat tidak lagi meminta-minta, negeri ini adalah negeri yang punya jiwa besar. Semoga bencana Merapi ini menjadikan negeri ini  menyadari segala kesalahannya, bahwa negeri ini sudah tidak lagi peduli terhadap sesamanya.

This entry was posted on Saturday, November 6th, 2010 at 11:19 am and is filed under Pengumuman. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.