“Ketika Bola jadi Agama Baru”

By June 14th, 2010

Semua lapisan masyarakat berbicara ” dari yang tua sampai anak-anak, pejabat atau rakyat jelata,  sekarang  sedang menghadapi apa  yang disebutnya ” demam piala dunia, yah perhelatan akbar yang dilaksanakan di negerinya Mandela, sesaat konflik terhenti, pertikaian suku bahkan runyamnya Krisis Yunani tidak mendapat perhatian yang luar biasa dari masyarakat dunia. Di Indonesia pemilihan ketua KPK sepi-sepi saja, demikian juga wacana gratisnya listrik yang diwacanakan Direktur PLN saat ini. Sesaat dunia melupakan runyamnya kehidupan yang memang sudah lama dunia ini tidak akan pernah mencapai titik equlibrium, karena memang dunia di ciptakan bukan untuk ketenangan tetapi untuk ketegangan dan konflik. Bukankah para malaikan juga bertanya kepada “Allah” untuk apa menciptakan manusia kalau sekedar akan menciptakan pertikaian. Jadi inilah dunia yang akan terus mencapai titik keseimbangannya.

Dunia harus dihibur, akibat rentanya persoalan yang entah kapan akan selesai dari permasalahan. Salah satunya yah melalui perhelatan akbat ini. tidak lagi ada batas-batas geografis yang menjadikan sekat kehidupan masyarakat dunia. Apalagi bagi negara yang tidak lolos ke Afika Selatan ini, seolah tim negara lain adalah negaranya sehingga apapun harus dilakukan demi tim kesayangannya tersebut. Tidak ada batas nasionalisme, apalagi batas patrotisme yah itulah bagi negara yang memang tidak”belum lolos ke putaran Piala Dunia. Demikian negara kita ” Indonesia Tercinta, entah kapan akan ada warna Merah putih ketika pembukaan piala dunia. Yah ini adalah fatalisme keterputusasaan melihat persoalan sepak Bola kita yang luar biasanya banyak masalah. dan mungkin tidak ada jawaban untuk menyelesaikan masalah tersebut, karena itu sekarang menjadi tradisi kita tanpa masalah kita tidak akan bisa hidup.

Sekali lagi Bola dengan Piala dunianya telah memutarkan perasaan, emosi dan entah apalagi, sampai-sampai telah menghentikan sejenak denyut nadi dan nafas dunia ini. Semuanya utnuk bola, satu bulan kedepan rakyat dunia berpesta bersama, emosi bersama, menjujung tinggi panji-panji negara yang ditunjukan untuk nasionalismenya.

Adalah moment yang laur biasa yang telah meruntuhkan semua estetika dan sistematika dunia yang serba rumit dan memang di buat rumit.

lupakan sejenak menikmati piala dunia ini, apalagi pila dunia yang penuh warna dan sportivitas, karena memang ditunjukkan oleh negeri-negeri Afrika yang begitu luar biasanya.

This entry was posted on Monday, June 14th, 2010 at 12:51 pm and is filed under Pengumuman. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.