Kemiskinan dan Aksesibilitas Kesehatan

By May 17th, 2010

Akhir-akhir ini, publik kembali tersentak dengan berbagai peristiwa yang berkaitan dengan kesehatan. Betapa tidak penyakit aneh yang menyerang Ita Susilawati (19) gadis Asahan ini merupakan penyakit yang langka. Seorang gadis yang tiba-tiba berubah menjadi tua renta. Penyakit yang secara medis di vonis karena alergi lingkungan  itu menjadi perbincangan sekaligus keprihatinan bersama publik di pelosok negeri ini. Prihatin akan penyakit aneh yang menimpa gadis tersebut sekaligus mempertanyakan bagaimana kinerja lembaga kesehatan selama ini. Sehingga belum dapat mengantisipasi berbagai permasalahan kesehatan terutama yang menyangkut warga miskin.

Masalah kesehatan merupakan hal penting yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Oleh karenanya dibutuhkan keseriusan untuk menanganinya, khususnya yang berkaitan dengan warga miskin. Anggapan bahwa orang miskin dilarang sakit menjadi hal nyata ketika lembaga kesehatan kurang responsive terhadap kesehatan warga miskin. Masih segar pada ingatan kita, penderita kelainan hati Ichsanul Fikri asal Banteran Sumbang Banyumas akhirnya tidak tertolong karena terlambat di tangani oleh medis. Kondisi ini masih lebih baik, seperti apa yang dialami oleh Bilqis, dapat tertangani berkat kegigihan orang tua dan komunitas pengguna facebook yang mampu mengumpulkan dana untuk kesembuhannya. Justru masyarakatlah yang peduli dan mampu menggerakan rasa empaty bersama untuk saling membantu antar warga yang saling membutuhkan. Walaupun pada akhirnya negara membantunya melalui Menteri Kesehatan, namun tindakan itu seoalah terlambat dan kurang tanggap terhadap kejadian yang menyangkut kesehatan warga negaranya.

Seharusnya kejadian ini menjadi pelajaran dan pemikiran bersama lembaga terkait untuk menangani kesehatan secara baik khususnya yang menyangkut warga miskin. Walaupun berbagai kebijakan untuk kesehatan ini sebenarnya sudah berjalan dengan  adanya Jamkesmas, namun pada kenyataannya masalah kesehatan warga miskin belum dapat berjalan sebagaimana mestinya yang sesuai dan diamanatkan undang-undang. Warga miskin berhak untuk mendapat jaminan kesehatan dari negara, karena tanggungjawab negara adalah melindungi warga negaranya termasuk dalam kesehatan ini.

Negara memang telah memberikan Jamkesmas, namun masih adanya berbagai masalah berkaitan dengan pelaksanaan Jamkesmas dari mulai birokrasi, perilaku penyelenggara kesehatan dan sikap mentalitas warga miskin sendiri yang kurang memahami hidup sehat. Akibatnya masalah kesehatan menjadi matarantai yang sulit untuk dipecahkan secara baik.

Terlepas dari masalah itu, kesehatan menjadi hal penting untuk dirumuskan dengan baik apa dan bagaimana solusinya untuk menyelenggarakan kesehatan dengan baik. Responsive dan akuntabel dalam proses penyelenggaraan kesehatan terutama yang menyangkut warga miskin menjadi tuntutan bersama. Oleh karenanya perlu dipikirkan jaminan kesehatan yang lebih memanusiakan warga miskin dalam memperoleh kesehatan yang layak. Sudah saatnya warga miskin mendapat perhatian yang layak sebagai warga negara.

Aksesibilitas Kesehatan

Selama ini warga miskin telah terabaikan haknya dalam penyelenggaraan kesehatan. Kemiskinan menjadi kendala utama bagaimana aksesibilitas kesehatan yang baik dapat terpenuhi dengan baik dan cepat. Munculnya fenomena irasional peyembuhan melalui kekuatan ”magic” menjadi trends seolah-olah menjadi penawar dahaga ketika warga miskin panik akan ketidakberdayaanya terhadap penyakit yang dideritanya. Wajar apabila fenomena ”ponari” sekan membius warga miskin dalam bentuk yang lain  di lain waktu dan tempat yang berbeda.

Selain itu menjamurnya pengobatan alternatif menjadi sinyal ketidakpercayaan publik terutama warga miskin terhadap lembaga formal yang memberikan pelayanan kesehatan. Hal ini dapat di lihat sebagai ketidakberdayaan warga miskin terhadap aksesibilitas pelayanan kesehatan atau pola mental masyarakat yang pengin cepat mendapat kesembuhan dalam mengatasi penyakitnya. Hal ini perlu dikaji secara mendalam, namun rupanya dapat dibenarkan menyangkut biaya menjadi kendala yang cukup berarti terutama dalam menjangkau atau mengakses pelayanan kesehatan yang murah dan berkualitas.

Permasalahan ini tidak akan pernah selesai, apabila tidak ada pemikiran untuk memberikan jaminan kesehatan bagi warga miskin melalui pelayanan kesehatan yang murah dan berkualitas. Tentunya tindakan ini juga diiringi dengan pendidikan pola kesehatan yang memadai untuk menjaga lingkugan yang mendukung hidup bersih. Karena dengan tindakan tersebut akan kembali menyadarkan masyarakat akan arti pentingnya pola hidup bersih dan menjaga kesehatan. Perlunya kesadaran bahwa kesehatan menjadi permasalahan bersama menjadi pondasi solusi perbaikan kesehatan warga miskin. Tanpa kesadaran itu, kesehatan akan menjadi permasalahan yang tidak pernah selesai.

Selain itu tingkat aksesibilitas warga miskin terhadap fasilitas kesehatan perlu ada peningkatan yang memadai, yaitu berupa pelayanan kesehatan yang cepat dan murah. Walaupun di tiap kecamatan sudah tersedia Puskesmas, namun masih banyaknya warga miskin yang belum tertangani dengan baik kesehatannya. Lembaga kesehatan ini kurang responsive dalam memberikan pelayanannaya Berkaitan dengan identifikasi masalah kesehatan maupun pendataan potensi kesehatan terutama bagi warga miskin. Selain itu pelayanan yang masih belum terjangkau dari segi biaya membuat Puskesmas ini terkadang tidak menyentuh warga miskin.

Berbagai program untuk menggratiskan pelayanan kesehatan ini sebenarnya sudah menjadi alternatif dalam peningkatan aksesibilitas pelayanan kesehatan bagi warga miskin. Namun lagi-lagi kendala birokrasi dan keberlanjutan pendanaan ini yang seringkali memunculkan permasalahan baru. Akibatnya solusi  ini tidak dapat bertahan lama, kemampuan keuangan daerah terbatas, apalagi seringkali para pengambil kebijakan tidak memprioritaskan sektor yang tidak populis. Untuk itu perlu adanya komitmen bersama membangun kesehatan yang merupakan keharusan guna menciptakan generasi yang sehat. Kita tidak berharap bahwa nantinya generasi penerus adalah manusia yang lemah karena tidak terpenuhinya kesehatan mereka. Jangan lagi ada peristiwa Bilqis, Fikri, Ita, dan peristiwa kesehatan lainnya yang mengharubirukan perasaan kita sebagai bangsa. Kesehatan itu ibaratnya investasi yang dijadikan modal dalam proses pembangunan lebih lanjut. Apalagi mengabaikan kesehatan warga miskin setidaknya hal itu tidak boleh terjadi lagi  di negeri ini.

Tobirin, M.Si

Dosen dan Redaksi Pelaksana Jurnal Visi Publik Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fisip Unsoed


[1] Dosen dan Redaksi Pelaksana Jurnal Visi Publik Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fisip Unsoed Purwokerto

This entry was posted on Monday, May 17th, 2010 at 11:02 am and is filed under Pengumuman. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.